Kliring.com – Stigma tentang Gen Z yang disebut antibaca dan hanya bisa scrolling media sosial tanpa tujuan tidak sepenuhnya tepat. Di tengah sibuknya jadwal kegiatan, banyak anak muda terutama Gen Z justru hobi membaca Alternative Universe (AU). Untuk yang belum tahu, AU sendiri adalah karya fiksi yang menceritakan karakter dengan latar belakang, profesi, maupun kepribadian yang berbeda dengan dunia nyata. Dalam penggambaran visual karakternya, author (penulis AU) biasanya akan menggunakan foto idola mereka atau public figure ternama, misalnya seperti menggunakan foto member grup K-Pop.
Sumber: Kumparan.com
Awalnya, AU tumbuh dan berkembang melalui platform X atau yang dulu dikenal dengan Twitter dalam bentuk thread atau utas interaktif. Namun, seiring berjalannya waktu, sekarang AU bisa kita temukan di platform lain seperti Instagram dengan format carousel post (slide gambar) dan TikTok dengan bentuk slide atau bahkan video cuplikan chat yang berdurasi singkat. Evolusi ini membuat AU semakin mudah untuk diakses di mana saja melalui perpaduan narasi dan fake chat yang mirip dengan gaya chatting sehari-hari.
Pelarian Saat Luang yang Membuat Kecanduan
Membaca AU ini menjadi pilihan favorit Gen Z saat memiliki waktu luang, contohnya saat jeda menunggu waktu kuliah sampai pada waktu overthinking sebelum tidur. Alasannya, AU dianggap lebih efisien dari segi waktu dan tempat, karena tidak perlu repot membawa buku kemana-mana. Hanya cukup bermodal smartphone dengan kuota atau Wi-Fi, cerita bisa langsung dibaca kapan saja dan di mana saja.
Daya tarik AU juga semakin terasa karena pembaca merasa ada keterikatan emosional dengan alur yang diberikan author. Banyak pembaca rela menyalakan lonceng notifikasi hanya untuk mendapat informasi update-an cerita dari author. Momen menunggu inilah yang memberikan sensasi penasaran tersendiri yang seru, seperti kata Gen Z, “di situlah letak asiknya”.
Genre Beragam, Berdampak, dan Literasi Modern
Pilihan alur dan tema yang diberikan author tidak pernah gagal untuk membuat penasaran para pembacanya, karena genre yang diberikan beragam. Mulai dari konflik keluarga, dinamika pertemanan, romansa anak kuliah, hingga investigasi dan misteri. Semuanya tersedia, sehingga pembaca tinggal memilih mana yang menarik dan cocok dengan kriterianya.
Sumber: Tangkapan Layar Utas AU karya @1998ur_ di Aplikasi X
Tidak hanya itu, AU juga memiliki dampak edukatif. Banyak author yang melakukan riset mendalam sebelum menulis AU. Melalui konflik yang diangkat dan kesesuaian profesi, cerita yang ditulis akan memberikan wawasan secara halus tanpa menggurui pembaca. Author akan memberikan edukasi kesehatan mental, literasi finansial, pengetahuan hukum, dan fakta sains hingga sejarah secara tidak langsung melalui tulisan mereka.
Karena sangat booming di berbagai platform media sosial, banyak AU populer dilirik penerbit hingga dibukukan menjadi buku novel fisik. Salah satu contoh AU yang dibukukan adalah karya Auryn Vientania (Alster Lake) dengan judul Abang dan Semesta. Setelah dibukukan, novel ini pun juga sukses terjual hingga puluhan ribu eksemplar. Hal ini menjadi bukti jika AU tidak hanya tren sementara, namun juga sebagai bentuk evolusi literasi di era digital yang mampu meningkatkan minat baca terutama pada Gen Z. Booming-nya AU ini juga menunjukkan jika Gen Z tidak kehilangan minat baca, namun hanya berubah menjadi lebih adaptif, efisien, dan fleksibel.
Penulis: Hafisya Zahra
Editor: Nova Dwi Oktaviani dan Kamila Nanda Shafitri
Sumber:
https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/56573
Posting Komentar