![]() |
| Sumber: Irfan |
Yogyakarta, Kliring.com - Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta menggelar aksi solidaritas di kawasan Titik Nol Kilometer pada Sabtu (18/04/2026), untuk mendukung tiga aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang tengah menjalani persidangan. Massa menyampaikan aspirasinya dengan melakukan long march dari Taman Budaya Yogyakarta dan menyampaikan orasi politik secara bergantian di tengah kerumunan wisatawan.
Muara Keresahan: dari Kriminalisasi BEM SI hingga Teror Air Keras
Aksi massa ini merupakan respons langsung terhadap proses hukum yang menjerat tiga aktivis mahasiswa dari BEM SI. Enrille (Ketua BEM Untidar 2023), Azhar (Menko Pergerakan BEM Untidar 2024), dan Yogi (Kabiro Medinfo BEM Untidar 2024) harus menghadapi sidang pasca demonstrasi besar Agustus 2025 silam.
Keresahan mahasiswa semakin memuncak menyusul aksi brutal yang menimpa Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS. Penyiraman air keras terhadap Andrie, dipandang sebagai "alarm keras" bagi demokrasi Indonesia. Peristiwa ini menandakan bahwa represi negara atau aktor tertentu telah bergeser dari sekadar kriminalisasi di atas kertas, menjadi kekerasan fisik yang nyata dan mengerikan.
Solidaritan Lintas Almamater
Massa mulai berkumpul di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sejak pukul 14.00 WIB. Berdasarkan wawancara di lapangan, Gita, seorang mahasiswa Universitas Sanata Dharma, menyebutkan bahwa massa baru mulai bergerak menuju Titik Nol sekitar pukul 15.00 WIB.
Berbagai mahasiswa dari beragam universitas tampak saling membaur, mulai dari Universitas Sanata Dharma, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, hingga Universitas Gadjah Mada. Selain itu, Universitas Respati Yogyakarta juga turut menerjunkan tim medis untuk mengawal jalannya aksi.
“Kita sebagai saudara, DIY yang paling dekat dengan Magelang. Aksi di sini harus menjadi pemantik bagi kawan-kawan di daerah lain, terutama Jakarta, agar isu ini terus beresonansi secara nasional,” tegas Gita dalam wawancaranya.
![]() |
| Sumber: Irfan |
UPN “Veteran” Yogyakarta: Dominasi Lantang Bersuara
Menariknya, meskipun massa berasal dari berbagai kampus, orasi-orasi yang membakar semangat massa didominasi oleh mahasiswa dari UPN “Veteran” Yogyakarta. Sebagai kampus yang menyandang gelar “Bela Negara”, kehadiran para orator menegaskan bahwa membela hak-hak warga negara yang dikriminalisasi merupakan suatu sikap “Bela Negara”.
![]() |
| Sumber: Irfan |
Keamanan dan Harapan Jangka Panjang
Koordinator lapangan telah menjalin koordinasi dengan Polda DIY untuk memastikan keamanan massa aksi tetap terjaga di tengah padatnya arus wisatawan di kawasan Titik Nol Kilometer.
Gita menutup pernyataannya dengan sebuah refleksi mendalam mengenai gerakan mahasiswa. Ia berharap solidaritas ini tidak bersifat musiman atau hanya mengikuti tren semata. "Harapannya solidaritas ini bisa lebih berkembang lagi dan tidak hanya mengusung masalah yang ramai saja. Mau itu kasus besar atau kecil, semuanya adalah bentuk ketidakadilan yang harus diusung dan diusut tuntas," pungkasnya.
Penulis: Rafi' Irfan Aulia Darojat
Editor: Nova Dwi Oktaviani dan Intan Nur Hanifah
Dokumentasi: Rafi' Irfan Aulia Darojat



Posting Komentar