PJTL: Menjangkau Realita yang Terabaikan

 

Foto: Tim BPPM Kliring


Yogyakarta, Kliring.com – Sabtu (09/05/2026), Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Kliring Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta telah melaksanakan Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) 2026. Dengan mengusung tema “Menjangkau Realita yang Terabaikan”, realita-realita sosial yang selama ini tersimpan rapat di balik derasnya arus informasi kembali diangkat ke permukaan. Jurnalisme hadir bukan sekadar meliput, melainkan untuk menjangkau dan menyuarakan cerita yang kerap terabaikan. Hal tersebut yang akan menjadi prioritas pada kegiatan PJTL 2026.


Kegiatan yang dilaksanakan secara offline ini dihadiri oleh 61 peserta yang terdiri dari anggota BPPM Kliring, Lembaga Pers Mahasiswa dari berbagai universitas, serta masyarakat umum. Acara berlangsung selama kurang lebih tiga jam, yaitu pukul 09.30 hingga 12.44 WIB di Ruang SPD 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN “Veteran” Yogyakarta.


Tema PJTL 2026 merupakan kelanjutan dari kegiatan PJTD yang sebelumnya mengangkat tema “Di Antara Harapan dan Kenyataan: Membaca Dinamika Sosial.” Jika kegiatan PJTD mengajak peserta untuk memahami bahwa dalam kehidupan sosial sering terdapat jurang antara harapan dan mengeksplorasi realita tersebut secara langsung dengan turun ke lapangan, melakukan wawancara, observasi, dan mengumpulkan fakta dari kehidupan nyata guna menemukan cerita sosial yang selama ini kerap terabaikan.


Kegiatan ini menghadirkan Ananda Putera Sugiarto, mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Jurnalistik yang juga aktif sebagai content writer di berbagai media dan organisasi, sebagai narasumber. Dalam materi yang dibawakan oleh narasumber yang bertajuk “Capturing the Reality to Answering Their Needs”, narasumber memantik diskusi dengan pertanyaan dasar: apakah tugas jurnalis adalah mencatat realita, atau mengubah realita? Merujuk pada elemen jurnalistik menurut Bill Kovach, ia menegaskan bahwa tugas jurnalis bukanlah “mengubah” realitas, melainkan membingkai realitas agar publik dapat memahami isu dari sudut pandang yang tepat. 


Pada saat pemaparan, narasumber juga menekankan mengenai pentingnya pola pikir investigatif dalam meliput berita yaitu tidak hanya melaporkan apa saja yang terjadi, tetapi juga menjawab mengapa hal tersebut dapat terjadi, siapa saja pihak yang diuntungkan, dan siapa saja pihak yang dirugikan. Materi yang dipaparkan oleh narasumber sangat relevan terhadap peran jurnalistik dalam mengangkat isu-isu sosial yang jarang terlihat oleh pihak terkait.  


Foto: Tim BPPM Kliring

Acara PJTL ini juga mengadakan sesi diskusi yang berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan yang mencerminkan keresahan nyata yang terjadi di lapangan. Peserta mengajukan beberapa pertanyaan terkait sudut pandang jurnalis, anonimitas korban dan pelaku dalam pemberitaan. Narasumber menjelaskan bahwa pada umumnya identitas korban perlu dilindungi agar keselamatan serta privasi korban terjaga, namun identitas pelaku dapat dipublikasikan apabila hal tersebut diperlukan untuk keamanan masyarakat di sekitarnya. Selain itu, pada sesi diskusi ini juga membahas pentingnya kode etik jurnalistik sebagai landasan dalam melakukan liputan. 


Melalui kegiatan PJTL 2026, peserta diajak untuk memahami bahwa menjangkau realita yang terabaikan bukan hanya tentang meliput berita, tetapi tentang keberanian untuk melihat lebih dalam, mendengar lebih jauh, dan menyuarakan apa yang selama ini tidak didengar. Di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengaburkan fakta, jurnalisme hadir sebagai ruang bagi masyarakat akan fakta yang sebenarnya. Melalui jurnalisme, berbagai realita yang jarang didengar dapat kembali disuarakan kepada masyarakat luas sehingga mampu menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu-isu sosial di sekitar. 


Penulis: Keisya Niken Larasati Eka Irsa Putri

Editor: Muhammad Fajar Pramono dan Rafi’ Irfan Aulia Darojat


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama