![]() |
| Sumber: Tim BPPM Kliring |
Yogyakarta, Kliring.com – Sabtu (18/04/2025) Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Kliring Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta telah melaksanakan Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) 2026. Dengan mengusung tema “Di Antara Harapan dan Kenyataan: Membaca Dinamika Sosial, Mengupas Realita, Menyalakan Kesadaran” di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap menyeret masyarakat pada kubangan hoaks dan disinformasi, jurnalistik kembali ditegaskan sebagai infrastruktur vital yang tidak tergantikan. Hal itu menjadi benang merah dalam kegiatan PJTD 2026.
PJTD yang dilaksanakan daring melalui zoom meeting ini dihadiri oleh anggota BPPM Kliring, Lembaga Pers Mahasiswa dari berbagai universitas, dan masyarakat umum. Acara yang dilaksanakan kurang lebih dua jam yaitu pada pukul 09.30 hingga 11.50 WIB ini mengundang Arif Septoro Riza Marzuqi yang saat ini menjabat sebagai Direktur PT Deras Literasi Indonesia serta Wakabiro Garudatv Jateng - DIY sebagai narasumber. Materi yang dipaparkan oleh narasumber sangat relevan terhadap peran jurnalistik dalam mengangkat isu-isu sosial yang jarang terlihat oleh pemangku kebijakan.
Dalam pemaparan tersebut, pembicara merinci empat fungsi utama jurnalistik yang menjadikannya tetap relevan sepanjang zaman. Pertama, jurnalistik berperan sebagai penjamin hak atas informasi, yang mana masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jujur sebagai landasan dalam pengambilan keputusan. Kedua, jurnalistik menjalankan fungsi kontrol sosial dengan bertindak sebagai pengawas kebijakan pemerintah dan institusi agar tetap berpihak pada kepentingan publik. Ketiga, jurnalistik berfungsi sebagai penyaring kebenaran (gatekeeper) di tengah simpang siur informasi, sehingga masyarakat tidak tersesat oleh data palsu. Keempat, jurnalistik hadir sebagai wadah aspirasi yang memberikan suara bagi mereka yang tidak terdengar dan mengungkap realitas yang tersembunyi di balik permukaan.
Salah satu poin yang paling mengemuka dalam sesi pemaparan adalah perbedaan mendasar antara produk jurnalistik dengan konten di media sosial. Pembicara menegaskan bahwa orientasi utama jurnalistik adalah kebenaran, sedangkan media sosial kerap kali mengutamakan kecepatan pengunggahan tanpa melalui tahap verifikasi yang memadai.
![]() |
| Sumber: Tim BPPM Kliring |
Acara PJTD yang dihadiri oleh 74 peserta dan 1 narasumber ini juga mengadakan sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan yang mencerminkan keresahan nyata di lapangan. Peserta juga mendiskusikan peran jurnalisme dalam penyaringan informasi, di mana penyaringan tidak dimaksudkan sebagai pembatasan, melainkan sebagai konfirmasi kebenaran melalui media terpercaya dan sumber aslinya. Isu pembungkaman jurnalis pun tak luput dari pembahasan. Pembicara memberikan perspektif bahwa kritik tetap dapat disampaikan secara konstruktif dengan memilih sudut pandang yang tepat bukan menyerang subjek, melainkan menyajikan fakta dengan wawasan yang mendalam dan menarik.
Sesi diskusi yang berlangsung interaktif itu sekaligus menegaskan satu hal yang tidak bisa dibantah yaitu jurnalisme bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kebutuhan yang semakin mendesak di era sekarang. Di tengah banjir informasi digital yang tak terbendung, masyarakat justru semakin membutuhkan jurnalis yang berani berdiri di atas fakta, bukan sekadar mengikuti arus viralitas.
Penulis: Rapriana Fitri N.
Editor: Nova Dwi Oktaviani dan Kamila Nanda Shafitri
Dokumentasi : Tim BPPM Kliring


Posting Komentar