Membaca Ulang UPN dan Cetak Biru Bela Negara

Foto: https://share.google/BeNkE25Xzq7jSKOuZ


Kliring.com - Oktober 2014, di tengah perayaan HUT TNI ke-69 di Surabaya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan tiga Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" sebagai Perguruan Tinggi Negeri di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah hampir dua dekade berstatus swasta di bawah Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman (YKPBS), UPN resmi menerima status perguruan tinggi negeri.


Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal kepemilikan tanah dan aset negara yang dikelola oleh swasta, adanya Keputusan Menhan No. KEP/191/M/II/2014 tentang bentuk Tim Penegerian UPN Veteran, Perpres No. 121 Tahun 2014, surat Penyerahan aset kepada Kemendikbud berdasarkan surat Menteri Keuangan No. S-198/MK.6/2014 tentang Persetujuan Alih Status Penggunaan Barang Milik Negara pada Kemendikbud, dan tiga Perpres no 120, 121, 122 tahun 2014 tentang Pendirian UPN "Veteran" Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi landasan dari proses penegerian UPN.


Menanggapi peralihan UPN menjadi PTN, Menteri Pertahanan saat itu, Purnomo Yusgiantoro, berharap ciri khas kurikulum bela negara tidak boleh hilang agar mahasiswa lebih cinta Indonesia. Ia juga menambahkan, UPN harus memuat nilai-nilai ciri khas bela negara sesuai dengan cita-cita para pendahulu (founding fathers).


Sekilas, harapan Purnomo nampak seperti angan belaka. Angin lalu yang lewat begitu saja.


Namun, petaka itu terlambat dideteksi lebih dini. Hari ini, lebih dari satu dekade peralihan institusi, apa yang diharapkan Purnomo, tak hanya bertahan, tapi juga membiak dan kian agresif. Persis seperti tumor yang mengendap dan menjangkiti setiap organ bernama civitas akademika.


Bela negara yang bagi penulis adalah bungkus dari ide militerisme di ruang sipil. Dalam hal ini, kampus membuktikan bahwa dirinya bukan hanya kebal, tapi mampu mengambil bentuk lain di habitat yang sama sekali baru.


Pada titik inilah pembacaan ulang penting dilakukan. Sebab, transisi kelembagaan nyatanya tak serta-merta mengubah watak. Ia beralih rupa. Pendisiplinan bukan lagi dilakukan lewat komando di lapangan, tapi terjadi begitu saja di ruang kelas, dibalut dalam muatan mata kuliah. UPN lebih dari sekadar kampus, ia menjadi laboratorium tempat eksperimen infiltrasi militer ke dalam tubuh sipil yang berlangsung selama lebih dari satu dekade. Eksperimen yang di atas permukaan, pada awalnya hanya dilihat sebagai seremoni peralihan institusi.


Eksperimen itu juga ingin menguji apakah ide militerisme tetap bisa bertahan meski jangkar institusionalnya dicabut. Eksperimen itu tengah menjawab pertanyaan yang hari ini kian nampak ujungnya: Apakah militerisme di tubuh UPN hanya bisa hidup karena disangga otoritas Kemenhan? Atau ia sudah cukup mengakar untuk berdiri sendiri di bawah rezim sipil yang seharusnya punya logika berbeda?


Jawabannya sangat dekat dengan praktik yang ada. Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Sosial dan Publik, Deddy Corbuzier, datang menyambut mahasiswa baru. Tak lama darinya, mahasiswa digelandang ke barak militer, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sekali lagi, identitas kampus bela negara pada akhirnya tetap subur bertahan.


Beberapa penolakan ide militerisme timbul-tenggelam. Seluruhnya praktis bermuara pada aksi gugatan, tak lebih dari itu. Ide untuk meruntuhkan doktrin militer terlalu abstrak karena bela negara dianggap sebagai entitas terberi. Ia tidak lagi dialami sebagai represi yang harus dilawan, melainkan diterima, bahkan dirayakan sebagai nilai jual yang membedakannya dari lembaga lain.


Di sinilah eksperimen itu benar-benar berhasil, bukan karena militerisme dipaksakan dari atas dan civitas akademika tunduk, tetapi karena ia divalidasi dari bawah. Bela negara sebagai doktrin, berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa sipil sebagai sesuatu yang netral, bahkan positif karena memuat ide soal disiplin, cinta tanah air, dan pembentukan karakter. Alih-alih dianggap sebagai perluasan logika militer ke ranah yang seharusnya bebas dari itu. Itulah kondisi ideal bagi sebuah model untuk direplikasi, ketika ia tidak lagi membutuhkan otoritas pemaksa, karena subjeknya sendiri yang meminta.


Meski tanpa didasari, klaim yang secara langsung menunjukkan pola kausalitas antara eksperimen bela negara dan perluasan ide militer di tingkat pendidikan menengah, tetapi cetak biru inilah yang barangkali digunakan saat merumuskan wacana taruna Akademi Militer mengajar di sekolah rakyat. Eksperimen infiltrasi militer UPN pada akhirnya sukses diperluas dan direplikasi ke tingkatan yang lebih rendah dengan tingkat pendisiplinan subjek lebih tinggi.



Penulis: Dzaky Fauzi

Editor: Hanan Dharmadhyaksa dan Muhammad Fajar Pramono


Tulisan ini merupakan kontribusi dari pihak eksternal dan telah melalui proses kurasi oleh redaksi Kliring. Isi dan opini dalam tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama