Kapsul Mesin Waktu

Nick Hiller/Unsplash


Sudah hampir tak terasa, ternyata kejadiannya sudah berlalu hampir 5 tahun lamanya.


Seorang pria duduk manis di sebuah ruangan kecil, dia menyunggingkan senyum kecil menatap semacam kapsul berpintu. Sejenak kemudian, air matanya tiba-tiba saja menetes perlahan. Dia membayangkan apa yang sebenarnya dia lakukan 5 tahun lalu, kenapa dia lalai? kenapa dia bisa sampai lupa? Kenapa begini? Kenapa begitu?

5 tahun lalu istrinya yang sedang hamil meninggal karena kecelakaan. Taxi yang ditumpangi istri pria itu ditabrak sebuah bus, dan istrinya meninggal seketika. Tidak biasa istrinya memilih naik kendaraan lain, biasanya suaminya selalu menjemputnya.

Waktu itu istrinya sedang memeriksa kehamilannya di klinik langganannya. Sewaktu berangkat ke sana, dia diantar oleh suaminya. Tapi, suaminya langsung meninggalkannya setelah itu karena alasan pekerjaan, dan berjanji akan datang 2 jam kemudian. Dan kenyataanya tak demikian. Istrinya menunggu hingga hampir 3 jam dan suaminya tak datang. Akhirnya istrinya memilih menggunakan taxi untuk kembali kediamannya. Sialnya perjalanan tersebut menjadi bencana, dia meninggal karena taxi yang ditumpanginya ditabrak sebuah bus kota. Anehnya sang istri meninggal sang sopir taxi hanya mendapat luka ringan.

Setelah mendapat kabar pria itu langsung meninggalkan tempat kerjanya dan bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya. Luka parah yang dialami istrinya membuat nyawanya tak bisa tertolong. Pria itu mulai menangis dan mengamuk di rumah sakit.

Waktu berlalu, dia membutuhkan waktu sekitar setahun hingga bisa menerima kenyataan. Di saat semua kegundahan dan kesedihannya berangsur menghilang, dia membuat sebuah rencana tak masuk akal. Dia tak peduli kalau orang-orang akan menyebutnya gila, dia berkeyakinan penuh. Dia tak peduli.

Dia mempunyai ide untuk membuat mesin waktu. Dia ingin kembali di mana dia bisa menolong istrinya. Dia ingin merubah waktu, dia sangat yakin hal ini akan berhasil.

Awalnya semua berjalan sangat rumit, dia harus mempelajari banyak hal tentang relativitas, ilmu-ilmu eksakta yang dia benci, memperhitungkan peluang, memperkirakan anggaran yang digunakan untuk membeli peralatan yang dia butuhkan, dan lain sebagainya.

Setahun pertama dia habiskan untuk mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan keinginan gilanya. Tahun kedua mulai merakit-rakit alat dengan beberapa kali rakitan mesinnya mengalami perubahan, tahun ketiga percobaan mesin dan tak pernah berhasil sesekali merasa menyerah dengan semua yang dia lakukan, tahun keempat kembali bangkit dan mengerjakannya hingga bisa digunakan. Dan akhirnya mesin waktunya jadi dan berfungsi seutuhnya. Mesin waktu berbentuk seperi kapsul yang bisa dimasukan maksimal 2 orang, di mana dalam kapsul tersebut ada banyak tombol dan sebuah kemudi untuk mengatur kendali mesinnya.

Dia melakukan banyak percobaan awal dengan mundur 20 tahun ke belakang, dia melihat wujudnya yang masih kecil dengan ingus yang meleleh turun dari sebelah lubang hidungnya. Dia juga melakukan percobaan dengan maju 30 tahun kemudian untuk melihat bagaimana rupanya ketika lansia, dia melihat semua keriput di wajah tuanya, dia melihat ketika dia tua dan berjalan dengan ringkih dibantu tongkat kayu. Dia mencoba menjelajah waktu untuk menguji mesin waktunya.

Sekarang dia bangkit dari tempat di mana dia duduk, berjalan menuju kapsul mesin waktunya. Dia menghela nafas sejenak, menyetel kendali mesin untuk mundur 5 tahun yang lalu, tepat tanggal di mana dia terlambat menjemput istrinya.

Sekarang terasa mesin waktunya seperti terguncang dengan keras, dia terombang-ambing di dalam kapsul. Kepalanya mulai berputar, butuh waktu sekitar setengah jam hingga tiba-tiba dia tersadar. Dia tiba di sebuah toilet. Dia mengingat toilet ini adalah toilet tempatnya bekerja.

Dia keluar dari toilet itu, berjalan melewati koridor dan melihat kalender, dan kalender menunjukkan tanggal di mana istrinya meninggal. Mesin waktunya berfungsi dengan benar. Dia tertawa kecil karena senang bisa tiba di waktu yang tepat, dia melihat jam dinding, menunjukan waktu pukul 10 pagi. Dia mengingat istrinya waktu itu meninggal pukul 11:30, jadi jika dia menjemputnya sekarang istrinya tak mungkin meninggal.

Pria itu turun melewati basement mengambil mobilnya, dan pergi meninggalkan kantornya menuju ke klinik di mana istrinya diperiksa. Dalam perjalanan, ternyata macet kendaraan mengganggu perjalanannya. Waktu terus berjalan cepat, di kemacetan yang membuatnya kesal. Dia menengok jam tangannya, sudah hampir jam setengah 12.

Dia panik, dan  memencet klakson dengan sembarangan hingga mengganggu pengendara lain. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk di ponselnya. Pesannya berisi informasi tentang istrinya mengalami kecelakaan dan langsung meninggal di tempat.

Dia mulai menangis dan berteriak tak karuan dalam mobilnya. Semua orang di sekitar memperhatikannya dengan tatapan heran.

Dia merenungi, kenapa dia kembali lalai walau sudah diberikan kesempatan kedua. Dia menyesali kalau tetap seperti ini kenapa dia harus repot-repot menciptakan mesin waktu.


******

Di sebuah rumah sakit Jiwa seorang wanita paruh baya sedang berdiri menatap seorang pria sakit jiwa yang duduk termenung di dalam ruangan sempit. Pria itu adalah anak pertamanya yang masuk di RS jiwa ini 3 tahun yang lalu. Tak lama kemudian seorang dokter muda kejiwaan masuk ke dalam ruangan tersebut.

Wanita paruh baya tadi menyalaminya, selanjutnya dokter muda itu mengajak wanita paruh baya itu berjalan-jalan keliling rumah sakit itu.

Dalam perjalanan berkeliling tersebut, wanita paruh baya itu menanyakan keadaan anaknya. Dokter muda itu menggelengkan kepalanya “Keadaannya masih sama bu. Dia masih saja seperti itu.”

Wanita paruh baya ini bertanya lagi, “Jadi?”

Dokter muda itu memotong pembicaraanya “Iya, benar bu, dia masih terus berpikir kalau dia sudah menciptakan mesin waktu. Jika suster datang memeriksanya, dia masih saja mengatakan kalau kapsul mesin waktunya sudah berguna dengan baik.” Sedikit jeda, lalu dokter muda tadi melanjutkan “Dia selalu bercerita tentang mesin waktu yang dia buat. Dia selalu mengatakan dia akan menolong kembali istrinya dengan menggunakan mesin waktu yang dia gunakan,” lagi ada sedikit jeda. “Depresi yang anak ibu alami karena kematian istrinya sepertinya benar-benar sudah mengganggu semua isi pikirannya.”

Wanita paruh baya tadi sekali menghela nafasnya lalu berbicara singkat “Seharusnya dulu dia tak lalai menjemput istrinya!”

Yogyakarta, 22 Mei 2017
Oleh: Aswandhi Askat
Lebih baru Lebih lama