Ketika Aliansi Rakyat Memanggil, Gejayan Kembali Bersuara

Foto: Tim BPPM Kliring


Yogyakarta, Kliring.com - Sabtu, (13/06/2026), Derasnya hujan di Yogyakarta tidak menyurutkan langkah massa yang memadati kawasan pertigaan Gejayan pada Sabtu sore. Dengan payung, jas hujan, hingga pakaian yang basah kuyup, massa tetap bergerak menyuarakan berbagai aspirasi dan keadilan bagi masa depan dan kesejahteraan masyarakat. 


Aliansi Rakyat Memanggil menjadi wadah yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh, ojek daring, hingga rakyat secara umum. Salah satu koordinator lapangan, Dhani Egison, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan hasil dari konsolidasi berbagai kelompok yang memiliki tujuan bersama, yakni menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. 


Dalam aksi ini, massa membawa sepuluh tuntutan, mulai dari penghentian program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dinilai rawan korupsi dan minim pengawasan, penolakan koperasi desa merah putih yang dianggap menyimpang, pencabutan revisi sejumlah undang-undang yang dinilai membatasi ruang demokrasi, hingga pemenuhan hak masyarakat atas pendidikan, kesehatan, pekerjaan, kebutuhan pokok, serta ruang hidup yang layak. Selain itu, massa juga menyuarakan perlindungan terhadap hak-hak pekerja, pemulihan kesejahteraan ekonomi rakyat, pembebasan warga yang dikriminalisasi akibat menyampaikan kritik, serta penegakan hak atas tanah dan lingkungan hidup.


Foto: Tim BPPM Kliring


"Harapan kami aksi ini mulai dan akhirnya tertib," ujar Dhani di sela-sela wawancara. Ia menjelaskan bahwa aliansi telah berkoordinasi kepada seluruh koordinator lapangan untuk memberi arahan agar massa segera kembali setelah aksi selesai. Bagi Dhani, inti dari seluruh rangkaian aksi cukup sederhana, yaitu, tuntutan yang disuarakan hari itu dapat didengar dan dikabulkan oleh pemerintah. 


Di tengah orasi yang bergantian memenuhi jalan, hadir pula Tiyo Ardianto, Mantan Ketua BEM UGM 2025, yang turut serta dalam aksi ini. Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan pemerintah saat ini. 


Menurut Tiyo, situasi yang dihadapi masyarakat bukan hanya sekedar dampak dari kondisi global, melainkan juga akibat dari kegagalan pemerintah dalam mengelola perekonomian. Ia menilai pemerintah belum menunjukkan sikap terbuka untuk mengakui berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. 


Foto: Tim BPPM Kliring


"Kalau Prabowo-Gibran mau melakukan perbaikan, lakukan satu saja: akui kesalahannya, akui kegagalannya," ujarnya saat wawancara. Baginya, pengakuan atas kegagalan bukanlah sebuah bentuk kelemahan, melainkan sikap kesatria yang dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki keadaan.


Ia juga berharap bahwa aksi ini tidak dianggap sebagai tujuan akhir. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengawal isu-isu yang sedang diperjuangkan dan menjaga konsistensi gerakan di ruang publik. 


Ketika massa perlahan membubarkan diri, yang mereka tinggalkan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan harapan agar setiap tuntutan yang telah disampaikan benar-benar didengar dan ditindaklanjuti oleh pemerintah. Di tengah jalanan yang masih basah oleh hujan, Gejayan kembali menjadi saksi bahwa ruang publik tetap masih hidup selama masih ada suara yang memilih untuk tidak diam. 



Penulis: Nova Dwi Oktaviani 

Editor: Intan Nur Hanifah dan Muhammad Fajar Pramono




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama