![]() |
| Foto: Hanan |
Yogyakarta, Kliring.com - Sabtu (16/05/2026), BEM Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY), BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), serta BEM Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar forum diskusi publik terbuka yang menghadirkan Dosen Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik (DMKP) UGM Muchtar Habibi, jurnalis Tempo Shinta Maharani, dan Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) DIY Dani Eko Wiyono yang bertempat di bundaran UGM. Forum ini digelar karena keresahan terhadap hak-hak buruh yang semakin tidak dipenuhi, mulai dari upah yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro buruh, hingga bagaimana peran mahasiswa untuk membantu agar buruh bisa mendapatkan haknya kembali.
Pada Sabtu (16/05/2026), digelar forum diskusi terbuka yang dihadiri oleh 3 narasumber, mulai dari dosen DMKP UGM sekaligus pengurus Sejagad, Muchtar Habibi, salah satu jurnalis Tempo yang menjabat sebagai koordinator Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Rentan dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Shinta Maharani serta Ketua SBSI DIY Dani Eko Wiyono.
Dani menjelaskan bahwa pengertian buruh masih banyak disalahartikan. Buruh bukan hanya pekerja kuli bangunan, tetapi arti buruh adalah semua pekerjaan yang bergantung pada upah, mau itu yang bekerja di perkantoran maupun yang bekerja di lapangan. Buruh adalah dosen, polisi, guru, DPR, serta presiden.
Muchtar juga menambahkan bagaimana dosen yang memiliki peran dan tanggung jawab besar, tetapi tidak diimbangi dengan upah yang layak. Dosen memiliki peran untuk mendidik mahasiswa, melakukan penelitian, dan pengabdian masyarakat. Namun, pada akhirnya gaji/upah yang diterima dosen sangat memprihatinkan. Dana yang dialokasikan ke universitas tidak seberapa dibandingkan dengan dana yang digunakan untuk kebutuhan lainnya.
Shinta juga berbicara tentang bagaimana sebagian besar media massa masih lemah terhadap sistem upah/gaji. Media massa juga tidak punya SOP yang proper untuk menjaga dan melindungi hak-hak para jurnalis. Selain itu, Shinta juga menjelaskan bahwa banyak kekerasan yang diterima jurnalis, bahkan kebanyakan pelakunya dari anggota kepolisian.
![]() |
| Foto: Hanan |
Salah satu mahasiswa yang merupakan peserta forum menanyakan kepada narasumber, kenapa sekarang gerakan-gerakan mahasiswa maupun gerakan-gerakan buruh seolah-olah dikotak-kotakkan, tidak menjadi satu. Dani menjawab bahwa pemerintah tidak suka kalau rakyat bersatu, oleh karenanya pergerakan mahasiswa dan buruh dipisah-pisahkan. Dani juga menjelaskan bahwa demo buruh tanggal (01/05/2026) kemarin, terdapat tiga titik demo, dan SBSI hanya berdemo di kawasan Tugu. Dani menjelaskan karena buruh yang berdemo di kawasan Titik Nol turut mengibarkan bendera-bendera partai. Menurutnya, demo buruh ini merupakan wadah untuk para buruh berkeluh kesah, bukan untuk ditunggangi salah satu partai.
Forum diskusi ditutup dengan penyampaian pernyataan sikap dari para peserta forum, seperti dari BEM KM UPNVY, BEM UGM, BEM USD, serta koalisi masyarakat yang turut ikut dalam penyampaian pernyataan sikap.
Penulis: Khonsa Nuur Husna
Editor: Nova Dwi Oktaviani dan Hanan Dharmadhyaksa


Posting Komentar