Aksi Simbolik KM UPN: Bentuk Kekecewaan Terhadap Birokrasi

Yogyakarta, Kliring.com - Senin (25/05/2026), pukul 19.00 WIB Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNYK) mengadakan aksi simbolik nyala lilin di halaman Gedung Rektorat UPNYK. Aksi yang dihadiri oleh KM UPN ini digelar sebagai bentuk pengawalan tuntutan terhadap birokrasi, sebuah janji atas pemenuhan 7 (tujuh) poin “Tuntutan KM UPN” yang telah disepakati oleh pihak birokrasi dan mahasiswa pada Rabu (20/05/2026) lalu. 


KM UPN mengaku telah berusaha menunggu jawaban dari birokrasi hingga Senin (25/05/2026) pukul 17.30 WIB, namun, belum ada jawaban yang diberikan oleh pihak birokrasi hingga aksi ini digelar. Walau birokrasi telah melakukan press release dan juga konferensi pers, hal ini dianggap tidak menjawab keseluruhan tuntutan yang telah KM UPN layangkan. Pada aksi ini beberapa korban dari tindak Kekerasan Seksual (KS) juga turut hadir untuk menyuarakan kekecewaan dan kemarahan mereka.


Seruan Kemarahan dan Kekecewaan Mahasiswa

Salah seorang korban KS merasa marah serta kecewa, ia disuruh diam dan dituding memfitnah pelaku. Korban mengatakan bahwa bukti dan pengakuan dari korban lain pun dianggap tidak sah. Bahkan korban hanya diminta untuk jangan mendekati pelaku. “Mau pelaku mati pun masih akan tetap ada rasa trauma dalam diri gue!” papar korban ditengah ungkapan rasa marah serta kecewanya terhadap tanggapan dari pihak kampus. 


“Saya yang berdiri di sini saja merasakan gemetar ketika mendengar suara itu (kemarahan korban). Kita gak tau gimana perasaan dari birokrasi di dalam,” ungkap salah seorang KM UPN setelah mendengar seruan kemarahan dari korban KS.


Ungkapan kekecewaan juga disampaikan oleh KM UPN mengenai tindakan birokrasi yang dianggap apatis. “Mereka kami datangi, kami ajak bicara baik baik, malah ditanggapi dengan apatis,” ujar salah seorang KM UPN dalam dialognya. Mahasiswa menganggap hal ini lah yang justru meruntuhkan citra mereka (birokrasi). “Setelah suara-suara yang begitu keras, birokrasi tetap tidak hadir,” ungkapnya. Ia bahkan mempertanyakan kehadiran keamanan di sore itu dan mengungkapkan bahwa ruang tidak aman justru diciptakan oleh birokrasi itu sendiri. “Justru ketika kita ingin menciptakan ruang aman, mereka (birokrasi) malah belibet,” tambahnya.

Sumber: Tim BPPM Kliring


Aksi Simbolik Nyala Lilin dan Harapan KM UPN

Pada pukul 19.15 WIB, aksi simbolik nyala lilin dimulai. Seluruh mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut diminta untuk merapat ke depan gedung rektorat dan menyalakan lilin yang mereka bawa. Lilin tersebut dinyalakan sebagai tanda bahwa KM UPN akan selalu menyuarakan kebenaran. Aksi tersebut dibarengi dengan sesi doa bersama dan juga penyampaian harapan KM UPN. Lilin-lilin yang sudah menyala ini kemudian diletakkan di depan pintu masuk gedung rektorat. “Supaya, mereka semakin bersinar, supaya kegelapan yang ada dalam diri mereka (birokrasi) itu dikalahkan dengan lilin yang kita bawa,” papar salah seorang KM UPN yang memimpin aksi simbolik tersebut.


Sumber: Tim BPPM Kliring


Dalam aksi ini, KM UPN juga masih turut menyampaikan kekecewaan dan sakit hati mereka terhadap tindakan yang dilakukan oleh pihak birokrasi. Mereka merasa seharusnya hari ini, Senin (25/05/2026), tuntutan mereka menemui titik terangnya. KM UPN juga sempat menyinggung mengenai tuntutan atas reformasi birokrasi yang dilayangkan pada Rabu (20/05/2026) lalu. Mereka mengungkap bahwa hal tersebut bukan hanya sebuah tuntutan semata, tapi juga merupakan bentuk keresahan, kemarahan, dan kekecewaan bahwa UPN dianggap tidak bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan di kampus ini dan hanya mementingkan citra mereka.


KM UPN juga mengungkap soal penghalangan akses dari upaya okupasi ruang KM UPN terhadap lapangan rektorat yang sempat diwacanakan akan dijalankan pada Minggu (24/05/2026) pukul 20.00 WIB lalu. “Dari jam 6 (sore) pintu gerbang itu sudah ditutup, dari jam 6 (sore) seluruh mahasiswa yang masih berkegiatan disuruh keluar,” ungkap salah seorang KM UPN dalam aksi simbolik tersebut, ia juga menambahkan bahwa KM UPN tahu bahwa birokrasi sebenarnya takut dan merupakan pengecut.


Selain ungkapan mengenai penghalangan akses, salah seorang KM UPN juga mengungkapkan mengenai pemberian janji dari “satu orang” mengenai pengadaan forum terbuka dimana seluruh KM UPN bisa hadir di sana. Forum terbuka tersebut dijanjikan akan dilaksanakan pada Senin (25/05/2026), pukul 13.00 WIB. “Lebih dari satu jam ADKESMA setiap fakultas dan BEM KM menunggu di sana. Tidak ada orang satupun yang memberikan kejelasan apa-apa,” jelasnya dalam aksi tersebut. “Mereka (birokrasi) ingkar janji teman-teman, mereka (birokrasi) pembohong,” tambahnya.


Tuntutan dan Janji Birokrasi yang Belum Dipenuhi 

Dalam wawancara yang dilakukan bersama Mas Theo mengenai aksi simbolik ini, didapati bahwa tidak ada tuntutan tambahan dari KM UPN. Mereka mengaku hanya mengawal “Tuntutan KM UPN” yang telah ditandatangani pada Rabu (20/05/2026) lalu. Pada aksi ini, KM UPN juga mengungkapkan bahwa mereka merasa dikhianati serta mempertanyakan maksud penandatanganan “Tuntutan KM UPN” dari birokrasi bila akhirnya tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Meskipun sejauh ini UPNYK telah melakukan press release dan konferensi pers, KM UPN merasa hal tersebut masih belum menjawab tuntutan mereka.


“Kami sebagai KM UPN merasa tuntutan itu tidak terjawab, tidak menjawab. Yang mereka (birokrasi) lakukan tidak menjawab dari tuntutan kami,” ungkap Theo pada saat diwawancarai.


Penulis: Kamila Nanda Shafitri 

Editor: Hanan Dharmadhyaksa dan Intan Nur Hanifah 

Dokumentasi: Tim BPPM Kliring

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama