Pengingat dan Pelupa



Ini adalah kisah antara si pengingat dan si pelupa yang sama – sama saling mengingatkan dan melupakan.
“Mengingat itu tak semudah melupakan. Khususnya cinta, apalagi cinta segitiga dan cinta tak dianggap”, kata Si Pelupa.
“Ah apa tidak sebaliknya?. Mungkin kamu terlalu banyak mengigau”, balas Si Pengingat.
“ Mengingat lebih membutuhkan waktu yang lebih lama daripada melupakan. Aku bosan mengingat, aku ini hanya hamba yang senantiasa hanya memohon, bukan untuk mengingat sepertimu”, timpal Si Pelupa.
“Hmm, kurasa itu hanya berlaku bagi orang – orang pelupa sepertimu”, Si Pengingat menjawab dengan datar.
“ Jadi orang – orang sepertimu, lebih mudah mengingat daripada melupakan?”, Si Pelupa bertanya dengan nada sinis.
“Tidak juga”, jawab Si Pengingat dengan singkat.
“Kau pengingat?”, mendadak Si Pelupa bertanya demikian.
“Aku pengingat waktumu. Namun, apakah kau juga pelupa?”, Si Pengingat menjawab, dan tiba – tiba bertanya.
“ Aku hanya pelupa, pelupa masa lalumu. So, is the time up?”, Si Pelupa menjawab, dan bertanya dengan sedikit bingung.
“ Not yet”, singat jawab Si Pengingat.
[interval sunyi]

“Mari beranjak, kita sudah terlalu lama berada di sini”., kata Si Pelupa membuyarkan keheningan.
“Sebentar lagi. Biar kita nikmati sejenak disini sisa – sisa keindahan ini. Aku takut kita tidak akan pernah kembali ke sini lagi”, Si Pengingat menjawab dengan tatapan kosong.
“Ngomong – ngomong, apa arti mengingat menurutmu?”, tanya Si Pelupa kembali.
“Sama seperti kamu menjawab apa arti melupakan itu”, jawab Si Pengingat masih dengan tatapan kosongnya.
“Aku bingung sekarang”, jawab kembali Si Pelupa.
“Kenapa memang?”, Si Pengingat bertanya sambil memandang heran Si Pelupa.
“Mengapa sekarang kita harus sama – sama saling mengingatkan dan melupakan, jika kita sama – sama lahir dari suatu kebingungan?”, jawab si Pelupa dengan pandangan kosong.
“Benar katamu. Tapi ini takdir, bahwa kita ditakdirkan untuk menjadi Si Pelupa dan Si Pengingat yang sama – sama saling mengingatkan dan melupakan”, balas Si Pengingat.
“Atau mungkin, kita hanya ditakdirkan menjadi BINGUNG?”, Si Pelupa bergegas berdiri
“Entah, itu misteri Sang Pencipta”, Si Pengingat pergi.

Lebih baru Lebih lama