AKU MISKIN MAKA AKU JAHAT (?)

Text Box: FILSAFATAKU MISKIN MAKA AKU JAHAT (?)
Debrito Delta Pandega

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Banyak penjajah pada zaman dahulu datang ke Indonesia hanya untuk mengeksploitasi alamnya. Dari mulai bangsa Portugis (1509-1595), Spanyol (1521-1692), Belanda (1602-1942),  Perancis (1806-1811), Inggris (1811-1816), dan yang terakhir adalah Jepang (1942-1945).  Dan setiap negara itu, banyak mencuri kekayaan Indonesia yang sampai detik ini, kekayaan itu tidak pernah habis. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah sebuah Negara yang benar-benar kaya.

            Dalam sebuah lagu yang dibawakan oleh band Koes-Plus, dikatakan bahwa Tongkat dan kayu semua bisa menjadi tanaman. Hal ini menunjukkan betapa mewahnya Sumber Daya Alam Indonesia. Namun menjadi suatu ironi, ketika melihat tingginya angka kemiskinan yang ada di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain (tercatat dari data 2016, angka kemiskinan Indonesia sebesar 10,86% atau setara dengan 28,51 juta orang). Apakah kemiskinan yang terjadi bisa dibilang seperti tikus yang kelaparan di lumbung padi? Lantas siapa yang disalahkan berkaitan mengenai lingkaran setan kemiskinan ini?
            Belum begitu lama terdengar, ada seorang ibu setengah baya yang tertangkap di kota Solo karena menculik anak di bawah umur. Anak hasil culikan itu, lalu dia jual. Entah untuk diperdagangkan kembali, atau disembelih dan diambil organ pentingnya untuk dijual. Semua tujuannya sama, yaitu agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rasanya uang begitu mahal di Indonesia. Selain itu uang juga menjadi suatu alasan “motive” utama seseorang untuk melakukan tindak kriminal.

            Secara realitanya di era seperti ini, uang memang dapat membeli segalanya. Mulai dari perasaan orang hingga segala martabat dan kehormatan seseorang. Semua itu, memang dilandasi dengan adanya uang. Tidak mengherankan apabila banyak orang yang hidup di era ini selalu berorientasi dengan mencari uang. Sehingga bagi mereka yang kurang beruntung dan tidak memiliki kesempatan, lebih memilih dengan cara kotor untuk mendapatkan uang. Oleh karena itu, jika ada seseorang bertanya “Hal apa yang menggerakkan manusia zaman sekarang?” Jawabanya adalah uang. Hal ini diasumsikan seperti sepeda motor yang bisa bergerak karena ada BBM.
            Seorang janda dari Guyana pernah mengatakan, “kemiskinan berarti kelaparan, kesepian, tidak adanya rumah untuk pulang pada malam hari, diskriminasi, dan kebutaan huruf.”  Sedangkan menurut ILO (International Labour Organization), mendefinisikan bahwa kemisikinan ditemukan jika kebutuhan-kebutuhan pokok tidak terpenuhi (kebutuhan makanan, pakaian, rumah, air bersih, sarana kesehatan, pengobatan, dan pendidikan), dan juga pekerjaan yang tidak dibayar secukupnya termasuk juga kebutuhan eksistensinya[1]. Jadi, kesimpulannya adalah kemisikinan berarti suatu kondisi ketika kebutuhan rohani dan bendawi seseorang tidak terpenuhi secara cukup.
            Menurut Laporan UNDP (United Nations Development Programme) tahun 1997, seperempat penduduk dunia hidup dalam kemiskinan yang berat. Kemiskinan yang terjadi bukan hanya kemiskinan secara materil saja. Melainkan kemiskinan seseorang di mana mereka tidak mampu memilih cara hidup mereka (keadilan sosial). Hal ini sama yang terjadi di Indonesia saat ini, dimana seseorang tidak mampu memilih pekerjaan yang mereka inginkan atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila ada mahasiswa lulusan S1 jurusan Teknik Informatika bekerja sebagai kasir di suatu perusahaan. Atau yang sering dijumpai adalah seorang yang menjadi pelayan toko padahal dia berasal dari lulusan sekolah menengah kejuruan otomotif. Perumpaan inilah yang mendasari akan adanya kesenjangan kemampuan dengan pekerjaan mereka, sehingga seorang tidak bisa berkembang dan mengalami suatu kondisi stagnan.
            Fenomena kemiskinan di Indonesia memang cukup rumit. Karena banyak faktor yang mendasari. Seperti faktor kemalasan, kurangnya fasilitas sarana dan prasarana, sistem peraturan yang memberatkan masyarakat untuk berkembang, ketiaadannya modal, kurangnya kemampuan dan potensi yang ada. Semua itu seakan-akan menjadi suatu momok bagi masyarakat, sehingga cara yang mereka gunakan adalah perbuatan kotor. Jangankan masyarakat yang terbilang berada di strata menengah-kebawah, masyarakat yang masuk dalam lingkup strata menengah atas pun juga sering melakukan tindakan kotor untuk mempertahankan kedudukan mereka. Salah satu contohnya adalah tindakan korupsi yang sudah menjamur di bangsa ini.
            Pemerintah yang seharusnya memerintah dengan bijaksana berubah menjadi pemerintah yang lebih suka memerintah. Meski secara kontekstual padanan kata dari pemerintah memang berasal dari kata perintah. Namun hal ini adalah sebuah kesalahan yang besar jika pemerintah hanya menjadi seorang yang ahli dalam memerintah namun tidak pernah belajar berkaitan mengenai rasa empati dan simpati. Karena segala kebijakan yang mereka buat hanya akan condong ke arah eksploitasi dan keuntungan pribadi.
NEOLIBERALISME ADALAH KEMATIAN
            Adam Smith perintis teori ekonomi liberal, pada tahun 1776 menerbitkan buku mengenai hakikat dan sebab kekayaan bangsa-bangsa. Ia berpandangan bahwa kekayaan tumbuh lewat pembagian kerja dan “Permainan bebas dari pasar” sehingga kemiskinan teratasi dengan sendirinya. Segi keadilan tidak berperanan dalam teori ini.
            Gunard Myrdal, pemenang hadiah nobel untuk ilmu ekonomi yang terkenal dengan bukunya “Asian Drama” 1980. Mengatakan kemisiknan adalah batu ujian untuk ekonomi yang manusiawi. Ekonomi tidak dipahami sebagai proses peluasan modal otonom, tetapi sebagai proses pemenuhan kebutuhan bendawi manusia, di mana semua produksi dan distribusi (pembagian) berkaitan erat dan di mana semua orang tidak berperanan sebagai objek belaka yang menerima secara pasif apa adanya, melainkan sebagai subjek yang bertindak secara aktif.
            Berlainan dengan pandangan di atas, Friedrich August Von Hayek (1992) yang juga pemenang hadiah Nobel. Mengatakan bahwa otonomi ekonomi kemajuannya tidak boleh diganggu oleh keadilan sosial. Pedoman keadilan sosialnya ditolak dengan mentah dan mengatakan “Apa keadilan itu? Siapa yang adil atau tidak adil? Alam atau Tuhan?”. Konsep keadilan sosial tidak mempunyai arti sama sekali dalam sistem pasar bebas dengan pilihan jabatan yang bebas. Keadilan sosial hanya bisa ada dalam ekonomi paksaan, di mana negara menentukan pendapatan warga negara. Tugas negara adalah keamanan luar dan dalam, terutama pelindungan milik pribadi. Teori yang dikembangkan oleh Friedrich August Von Hayek ini adalah teori yang sampai sekarang banyak digunakan terkusus dalam pandangan Neoliberalisme.
            Keadilan sosial yang banyak dipertanyakan hanya akan menjadi suatu keterlambatan mental masyarakat. Karena keadilan sosial adalah sebuah kunci akan adanya tujuan masyarakat yang makmur dan sejahtera. Karena tanpa adanya keadilan sosial, suatu masyarakat bisa dikatakan mati. Karena mereka sudah tidak memiliki sikap dan akal budi sebagai manusia. Yang ada hanyalah keegoisan dan semangat untuk saling “memangsa”. Hal ini bisa dibilang sangat berbahaya, karena “Hukum Rimba” akan ditegakkan, di mana yang lemah akan semakin lemah dan yang kuat akan semakin kuat dan memakan yang lemah.
SEMUA BISA JADI UANG
            “Semua Bisa Jadi uang.” Ungkapan ini memang begitu aneh dan rumit. Namun ungkapan ini adalah ungkapan yang benar-benar terjadi di era serba ganjil seperti saat ini. Sampah yang dulunya hanya sebagai barang yang tidak enak dipandang bisa berubah menjadi uang. Perempuan yang kecilnya biasa saja, tidak banyak orang diperhatikan (orang tua yang fokus pada bekerja sehingga kurangnya pendidikan) bisa dengan mudah dijual dengan harga yang sesuai dengan kehormatan mereka. Mungkin menjadi pertanyaan, mengapa sampah dan perempuan ini bisa sama-sama dijual? Alasanya sederhana, karena pasar yang kita anut adalah pasar bebas. Di mana setiap hal yang ada di dunia ini bisa dijual.
            Sebenarnya hanya menunggu waktu saja, jika pada suatu titik Tuhan yang banyak orang imani saat ini bisa dijual dengan murah di pasar tradisional. Hal ini pernah terjadi ketika orang masih menganut sistem “polytheisme” (menyembah banyak Tuhan) di mana berhala bisa dengan mudah dibeli di pasar. Tanda-tandanya sederhana, yaitu ketika Tuhan sudah tidak dihormati dan dijadikan suatu alasan untuk menjatuhkan seseorang. Dalam hal ini artiannya adalah Agama yang dipolitisasi. Di mana orang mencari massa dengan mengatasnamakan agama dan banyak orang dibayar dengan alasan ketuhanan untuk menjatuhkan suatu hal. Hal ini memang belum terjadi di Indonesia. Harapannya memang tidak pernah terjadi.
            Istilah “Semua Bisa Jadi Uang” ini merupakan suatu ungkapan yang sangat sesuai dengan teori pasar bebas Neoliberalisme. Karena orang benar-benar diberi suatu kebebasan mutlak untuk mengejar keuntungan secara material. Cara mengejar keuntungan itu bisa dengan cara yang baik bisa juga dengan cara kotor.
KEPEKAAN HATI NURANI
            Pada suatu hari, seorang anak bertanya pada ibunya “Ibu, di antara aku dan kakakku siapa  sebenarnya yang jahat? Apakah aku yang tidak bisa bergerak? Atau kakakku yang bisa bergerak dengan leluasa?”. Pertanyaan si anak dapat menggambarkan suatu tafsiran berkaitan mengenai siapa yang sebenarnya menjadi penjahat. Apakah si “Anak” (Orang msikin) atau si “Kakak” (Orang kaya). Jawabannya adalah berkaitan mengenai kepekaan hati nurani.
            “Apa yang membawa seseorang pada kejahatan?” dan “Apa yang mendorong manusia kepada keberanian?” jawabannya adalah kepekaan hati nurani.  Di New York ada seorang gadis kecil, Kitty Genovese, dibunuh di hadapan 38 orang yang melihatnya (Tahun 1964). Meskipun ia meminta bantuan, mereka tidak berbuat apa-apa. Kejadian ini merisaukan sekali dan sikap pasif ini disebabkan oleh rasa acuh tak acuh yang menghinggapi penonton.
            Rasa acuh tak acuh itulah yang membuat hati nurani itu tumpul. Sikap ini adalah sikap yang mendsasari setiap manusia. Karena sikap ini dimiliki oleh setiap orang tanpa ada terkecuali. Orang miskin bisa menjadi orang yang paling baik apabila dia mau melatih kepekaan hati nurani. Orang kaya bisa dengan mudah mengatasi kemiskinan yang terjadi, apabila dia mau melatih kepekaan hati nurani mereka. Karena dengan adanya sikap peduli maka dunia akan berjalan sesuai dengan kodratnya yang pada dasarnya adalah kebaikan.
            Alam itu baik, manusia itu jahat. Oleh karena itu, manusia itu hanya perlu belajar dan melihat alam, agar dia menjadi baik.

Penulis adalah Eks Pimpinan Redaksi KLIRING  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta 2016



Lebih baru Lebih lama