RAPAT KOORDINASI BEM SI (SELURUH INDONESIA) WILAYAH JATENG DAN DIY JILID 2


Dokumentasi Pribadi

BEM, kata-kata tersebut tentunya sudah tidak asing asing lagi di telinga kita para mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) adalah organisasi mahasiswa intra kampus. Badan ini merupakan salah satu gerakan aktif mahasiswa sebagai wadah dalam menyampaikan aspirasinya.
Bertempat di Gedung Arie Frederik Lasut, Fakultas Teknologi dan Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, tepatnya tanggal 17 Maret 2017 resmi digelar Rapat Koordinasi BEM SI Wilayah Jateng dan DIY. Dalam Rakor Jilid 2 ini dibahas mengenai isu-isu yang ada di wilayah Jateng dan DIY, serta ekskalasi untuk satu tahun mendatang. Rakor ini dihadiri oleh 16 universitas antara lain Politeknik Negeri Semarang (Polines), STMIK AMIKOM Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global, Sanata Dharma, Universitas Semarang (USM), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Negeri Jenderal Soedirman (UNSOED), UGRIS PGRI Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, UNTIDAR Magelang, dan Universitas Diponegoro Semarang.
Pukul 14.00 rapat segera dimulai. Perwakilan mahasiswa mengikuti rapat koordinasi, sedangkan mahasiswi berpindah ruangan untuk mengikuti Forum Perempuan. Rakor dimulai dengan pemaparan isu-isu kampus dan isu-isu wilayah yang sedang dihadapi di Jateng dan DIY. Kesempatan pertama diberikan pada Universitas Gadjah Mada yang disampaikan langsung oleh sang Presma, Alfath Bagus. UGM mengangkat masalah Neo NKK-BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus-Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang termasuk dalam isu PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum)
Seperti yang kita ketahui, Neo NKK-BKK adalah kebijakan yang dibuat oleh Mendikbud di Kabinet Pembangunan III (1978-1983), Daoed Joesoef. Kebijakan ini dianggap kontroversi karena dituding sebagai upaya Pemerintah Soeharto dalam mematikan daya kritis mahasiswa terhadap pemerintah. Neo NKK-BKK merupakan kebijakan untuk mengebiri kegiatan aktifitas politik mahasiswa. Mereka hanya cukup memahami politik dalam artian teori saja, bukan praktik.
Dokumentasi pribadi

Alfath Bagus, menyampaikan beberapa poin tentang isu PTN BH yang mulai muncul dalam lingkungan kampusnya. BEM hanya dianggap sebagai sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan komunitas. Sedangkan UKM diberikan beberapa persyaratan seperti harus berprestasi, reduksi peran lembaga mahasiswa dalam PPSMB, serta minimnya peran mahasiswa dalam seleksi MWA. Hal ini kian memperjelas akan terjadinya pelemahan pergerakan mahasiswa. Kegiatan PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Bagi Mahasiswa Baru) yang dirintis oleh BEM kini dijadikan sebagai kegiatan rutin Rektorat.
Sebelum meninggalkan ruangan rapat, Alfath sempat menuturkan, “tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional, hendaknya kita jadikan momentum.”
Ungkapan ini pun dipertegas tanggapan teman-teman dari Unsoed, bahwa akankah agenda 2 Mei tersebut hanya digunakan sebagai fasilitator saja ataukah dapat mengangkat isu pendidikan ke kancah nasional. Perlu adanya realisasi bukan sekadar momentum belaka. Ulasan ini kemudian berlanjut pada pemaparan dari Unsoed.
Mereka membawa isu agraria dan komersialisasi pendidikan. Menurut analisa mereka, Jawa Tengah sebagai pusat industri semen telah mempunyai surplus pendapatan. Namun, karena pemerintah sedang gencar untuk memperbaiki dan membangun infrastruktur, jumlah pabrik semen semakin meningkat untuk mencukupi kebutuhan bahan bangunan. Hal ini menyebabkan kerugian di pihak lain, seperti muai berkurangnya lahan pertanian. Tidak hanya itu, APBN pendidikan ternyata mengalami penurunan. Pada tahun 2016 APBN pendidikan sebesar Rp42,2 triliun kini merosot ke angka Rp38 triliun. Sangat disayangkan karena akan menutup akses pendidikan masyarakat. Universitas Sanata Dharma, UNNES, dan UII juga mengangkat isu yang sama mengenai agraria.
Rapat koordinasi sore itu sempat terhenti sejenak, para peserta harus pindah ke ruangan kelas dikarenakan izin ruangan yang terbatas, sedangkan pembahasan belum selesai. Setelah kurang lebih semua perwakilan BEM menyampaikan masalah dan pendapat mereka, akhirnya Rakor BEM SI jilid 2 hari itu menghasilkan dua kesepakatan. Pertama, rapat koordinasi BEM SI sepakat bahwa Isu Komersialisasi Pendidikan dijadikan sebagai Isu Nasional. Kedua, Isu Agraria diangkat sebagai Isu Wilayah. Sedangkan mengenai pembahasan aksi 2 Mei yang sempat disinggung oleh Presma UGM, perlu adanya tindaklanjut dari mahasiswa.
Pukul 19.00 Rapat Koordinasi BEM SI Jilid 2 resmi diakhiri. Semua peserta saling berjabat tangan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.

Oleh: Sekar Windusari
Lebih baru Lebih lama